Love Poems~

Tuhan menjagamu dari aku yang diam-diam mencintaimu.


***


Entah, ini hujan yang keberapa di bulan november.

Sejak kepergianmu yang meninggalkan berjuta sesak di dada, juga isak yang tak pernah kulewati ketika hendak menuju lelap.



***


Sajak takkan pergi, sajak takkan terlelap sajak akan setia berdiskusi dengan nurani ketika rinai sepi dan takkan membiarkan tuan dan puannya tersesat ditelan pekat malam.


***


Cukup rindu saja, hanya rindu, jangan temu, nanti segalaku sulit menyudahinya.


***


Sudah larut dengan kenangan sudah surut oleh genangan.


***


Kulipat rinduku kubiarkan saja terurai bersama angin dan masa tersiram hujan dan air mata.


***


Tak pandai aku merangkai sajak , hanya pandai menyimpan rasa.

Bicaraku kaku, namun rinduku semakin utuh.

Tak apa. Aku masih kuat menyimpannya.


***


Aku menulis puisi tentang sepi, sejak hatimu tak kenal aku lagi, sejak seluruhku kau tinggal pergi.


***


Semenjak hatiku kau patahkan, aku lupa bagaimana caranya bahagia.


***


Yang tersisa dari hubungan ini adalah penyesalan, sejumlah air mata, dan sedikit kerinduan.


***


Genang hujan di telapak tangan, adalah doa yang basah di lantai malam, jiwa yang menangis merasa kehilangan, mengharap sebuah kepulangan.


***


Duhai sepi, puisikan aku, aku ingin melumat perasaanku sendiri, di antara kata kata yang patah oleh sebuah kepergian.


***


Aku yang tak pandai menjagamu, atau kamu yang sudah bosan bersamaku?


***


Hujan datang tak mengenal waktu, seperti rindu, jatuh di dadaku bertalu-talu, tak tau malu.


Pada hal yang kunamakan rindu, aku mempunyai banyak air mata, dan doa doa yang kuterbangkan setiap waktu, untukmu.



***


Aku mencintaimu, dengan segala isi hati yang tertuang dalam sajakku, iya, hanya di dalam sajakku, sebab aku tak sanggup mengungkapnya padamu.


***


Di luar sedang hujan, sayang, tunggulah di sini, di ruang tamu yang sudah penuh dengan aroma tubuhmu.


***


Kalaupun kita saling mencintai, cukuplah hanya di dalam hati

Komentar